Kakek Penulis, Kakek Bukan

Di sebuah rumah sederhana, terlihat seorang anak sedang bercengkrama dengan ibunya. Rio, begitu nama anak itu dan Dinda nama ibunya.

“Ma, aku mau tahu ttg kakek Dodi dong…” ujar anak itu kepada ibunya.
“Eh tumben, Rio mau tahu cerita ttg Kakek Dodi,” jawab Dinda sambil memandangi huah hatinya yang baru kelas 3 SD.

“Rio kan nggak tahu kakek Dodi spt apa. Kakek kan sudah pindah ke surga,” jawab Rio polos. Sang ibu tersenyum. Memorinya terbang ke masa masa ketika mertuanya, Kakek Dodi masih hidup.

“Itu ambil saja buku di lemari, rak paling bawah dan yang paling kanan. Ada buku karya Kakekmu. Di buku itu, ada profil kakek Dodi…”
Tanpa pikir lama, Rio langsung mengambil buku itu dan membacanya. “Wah, kakek Dodi ternyata penulis buku ya… aku tahu banyak ttg kakek.”

“Terus kalau Kakek Doni aku bisa dapat ceritanya darimana Ma…” tanya Rio setelah selesai membaca profil kakek Dodi.

“Nah, itu di lemari paling atas ada buku ttg kakek Doni. Ambil dan baca saja…” jawab Dinda. Dia bangga juga melihat rasa ingin tahu anaknya.
Kedua kakek Rio memang sudah lama tiada.

“Ma, buku yang mana?” tanya Rio sambil melihat lihat jejeran buku di lemari bagian paling atas.
“Itu di depan kamu, yang dekat Al Quran,” kata Dinda sambil menunjuk ke arah lemari.

“Mana Ma, adanya cuma buku Yasin, mengenang meninggalnya kakek Doni…” jawab Rio sambil membaca sampul buku Yasin.
“Iya, hanya itu buku yang ada kakek Doninya…”

21 - buku yasin

 

Sahabat, itulah bedanya seorang yang menulis buku dan tidak menulis buku. Anak cucu Anda akan merasakan akibatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s