Kumpulan Tips Mudah Menulis Buku 1

BONGKAR DULU HAMBATAN DALAM MENULIS

Beberapa teman dan kolega saya sering berkobar-kobar semangatnya untuk menulis buku. Tapi dalam beberapa waktu kemudian, kobaran itu lambat laun mengecil bahkan lalu padam. Saya kemudian bertanya, “Kenapa?” Sebagai teman yang baik, tentu saya harus mau membantu mereka. Tapi jawaban yang diberikan seringkali membuat senyum simpul saya mengembang. Dalam hati, sering saya berkata sendiri, “Ah alasan basi… klasik!”

Kenapa demikian? Karena memang alasan mereka mengurungkan niat atau gagal menulis akibat beberapa hal sepele. Paling tidak, sepele menurut saya. Entah buat Anda, entah buat mereka. Mungkin saja, masalah sepele ini justru sangat besar sehingga sulit dihindari.

Berikut saya urutkan alasan sejumlah teman, yang belum juga berhasil menulis sebuah buku. Saya urutkan sesuai dengan banyaknya alasan ini menjadi kambing hitam teman-teman tersebut.

Tidak punya waktu. 

Wajar mereka tidak punya waktu, karena mereka bekerja atau berwirausaha. Menulis bukan prioritas, sehingga waktu menjadi alasan utama. Sebagian dari mereka malah sangat parah pembagian waktu hidupnya. Berangkat pagi-pagi sekali karena tinggal di pinggiran Jakarta dan baru sampai rumah lebih dari jam 8 malam. Itu dilakukannya setiap hari Senin sampai Jumat. Hari Sabtu, tetap masuk meski hanya setengah hari.

Teman yang lain juga demikian. Waktu menjadi musuh utamanya menulis. Di kantor tidak mungkin menulis karena terlalu banyak gangguan. Di rumah juga sulit, karena harus membaginya buat keluarga. Jadi kapan ada waktu buat menulis? Tidak ada.

Sulit memulai.

Hambatan kedua yang paling sering menjadi alasan adalah sulit memulai. Setelah susah payah meluangkan waktu, yang katanya sangat sempit itu, ehsulit memulai ketika sudah di depan komputer. Kasihan deh lu! Sudah susah mendapatkan waktu lowong, tetap saja tidak mampu memulai menulis. Entahlah kenapa bisa terjadi, karena selama ini saya tidak pernah mengalaminya. Saya bisa tetap menulis, menulis apa saja yang terpikir saat itu.

Tidak punya ide.

Komentar saya terhadap alasan ini adalah KEBANGETAN. Masa tidak punya ide apapun untuk ditulis? Ah masa… yang benar saja? Dirinya sendiri adalah ide. Kenapa tidak menulis tentang dirinya sendiri? Tidak menarik… siapa bilang Anda tidak menarik? Buat Anda mungkin tidak menarik, bagi orang lain belum tentu.  Ide ada dimana-mana, berserakan, tinggal dipunguti saja.

Takut Dihujat, Takut Salah, Pokoknya Takut…

“Buku apaan sih, nih?”

“Ah kalau bikin buku beginian sih aku juga bisa!”

“Heran… kok buku kaya begini diterbitkan?”

Cacian dan makian semacam itu, tampaknya sudah sering terdengar mengomentari sebuah buku. Biasanya, pendapat-pendapat itu muncul di toko buku, ketika si pencaci melihat-lihat banyak buku. Awalnya saya pun (ketika belum menulis buku) pernah mengeluarkan pendapat serupa, terutama pertanyaan pertama, ”Buku apaan sih nih?”

Tapi, lama kelamaan saya menyadari, buku apapun dengan tema apapun dengan cara penulisan seperti apapun, kalau sudah diterbitkan berarti sudah melalui berbagai tahap.

Pertama, tahap bahwa ide buku itu layak diterbitkan. Berarti ide sang penulis dianggap mempunyai nilai jual tertentu.

Kedua, tahap bahwa bentuk tulisannya sudah layak terbit sesuai dengan segment pembacanya. Apakah tulisannya baik dan benar tidak, bukan persoalan. Yang penting, tulisannya cocok untuk segment yang dituju.

Ketiga, isinya dianggap akan memenuhi kebutuhan atau keinginan pembaca.

Tidak ada penerbit yang mau mengalami kerugian!

Ini yang harus diingat, meskipun ada juga segelintir penerbitan (biasanya bukan penerbitan komersial) yang meluncurkan buku dengan pertimbangan di luar bisnis.

Nah, jika Anda masih takut dengan hujatan, cacian atau makian, yang merendahkan buku atau calon buku Anda, ingatlah tiga point di atas. Jika calon buku atau buku Anda layak terbit, artinya sudah memenuhi ketiga point tersebut. Maknanya, buku atau calon buku tersebut sudah ’sempurna’. Tidak perlu lagi khawatir dengan hujatan, cacian atau makian.

Satu hal yang pasti, Anda sudah berbuat jauh lebih baik dibanding para penghujat, pencaci dan pemaki. Anda sudah mampu membuat buku atau calon buku, sedangkan mereka BELUM TENTU. Biasanya kebanyakan pencaci, penghujat dan pemaki malah tidak mampu membuat buku atau naskah buku.

————————————————————

BANGUN KOMITMEN UNTUK MENULIS

Seorang kawan SMU bercerita, “Aku ini sangat ingin menulis. Bahan-bahan sudah ada semuanya. Kalau dituliskan mungkin bisa menjadi beberapa buku. Masalahnya adalah aku nggak punya waktu. Pagi berangkat jam 6, pulang malem. Sampai di rumah, waktuku buat istri dan anak. Di kantor, gangguannya terlalu banyak. Tak bisa menulis…”

Lalu dia bertanya, “Kamu punya solusi nggak, bagaimana cara paling jitu agar aku bisa menulis?”

Sejenak saya tertegun. Tapi dalam hati saya tersenyum. Ini pertanyaan umum yang sering dilontarkan oleh mereka yang ingin menulis tapi terbentur waktu. Sejurus kemudian saya ingat teman lain SMU, yang isi dan nada bicaranya kerapkali sinis dan tajam. Pernah teman saya yang lain tersinggung gara-gara ucapannya.

“Ah bohong itu kalau tidak punya waktu. Setiap orang pasti masih punya waktu untuk melakukan hobi atau keinginannya. Masa kerja terus, emang robot?” begitu katanya tentang alasan tidak punya waktu.

Tapi pendapat itu bukan jawaban tepat untuk menjawab pertanyaan teman yang mau menulis tadi. Kalau jawabannya seperti itu pasti dia akan masygul, sebal, kesal. Saya punya jawaban lain yang lebih logis dan lebih berkelas serta akan membuat seseorang memikirkannya secara keras. Ini adalah salah satu kunci agar seseorang mampu menulis, meski tak punya waktu. Dijamin!

Teman tadi tampak tidak sabar menunggu jawaban dari saya. Dia sengaja meminta bertemu dalam sebuah kesempatan makan siang, hanya untuk konsultasi menulis buku. Dia nekad izin dari kantornya selama setengah hari, mulai dari jam makan siang.

Sambil menyeruput ice chocolate yang begitu sejuk melewati kerongkongan, saya mulai berkata, “Teman, tidak ada kiat atau jurus atau apapun namanya yang bisa membuat kita bisa segera menulis.”

“Tidak ada bagaimana? Terus apa saran kamu supaya aku bisa menulis?” desaknya tak sabar.

“Hanya ada satu cara…” jawabku menggantung membuatnya makin penasaran.

“Komitmen!”

Betul, hanya komitmen kuat yang bisa membuat seseorang mampu menulis. Tanpa komitmen, mustahil kita bisa menulis. Apalagi yang punya hambatan (buat saya tantangan) tak punya waktu atau kesulitan membagi waktu. Dengan komitmen kuat, tantangan itu bisa ditaklukkan. Sekali lagi, KOMITMEN.

Akhirnya, teman saya itu ber-KOMITMEN untuk menulis sebuah buku, yang harus selesai pada tahun 2008 ini. Saya bilang jangan hanya satu buku, tapi DUA buku. Satu setiap enam bulan!

Saya yakin, setiap orang punya kemampuan untuk menulis buku sebanyak itu, asal punya KOMITMEN kuat. Rumusnya: MS, MSS, MSSS  (Menulis Saja, Menulis Sedikit Sedikit/Sehalaman Sehari, Menulis Sering Setiap Saat)

Selamat ber-KOMITMEN.

—————————————————-

MENULIS BUKAN BEBAN

Sebuah buku terdiri dari lebih seratus halaman. Buku saku berkisar 75 sampai 100 halaman. Buku pegangan berkisar antara 100 – 150 halaman, buku yang lebih lengkap tebalnya mungkin 150 – 200 halaman, buku referensi bisa jadi sampai 250 halaman. Sedangkan buku-buku komprehensif biasanya lebih dari 250 halaman. Buku “The 7 Habits…” karya Covey misalnya, berjumlah 382 halaman.

Itu buku non fiksi. Bagaimana dengan buku fiksi. Baiklah kita hitung lagi. Kumpulan puisi, 100 halaman saja sudah bagus. Kumpulan cerpen, berkisar 100 sampai 150 halaman. Kumpulan essay mungkin sampai 200 halaman. Chicklit atau teenlit juga sekitar 150 sampai 200 halaman. Sementara novel, lebih dari 200 halaman. Novel spionase “The Lady Di Konspirasi” saja mencapai 520 halaman.

Wuih… ternyata menulis buku itu berat ya! Jumlah halaman yang ditulis harus banyak. Paling tidak di atas 100 halaman. Sebagian besar penerbitpun, mensyaratkan jumlah halaman minimal sebanyak itu.

Bagaimana mungkin aku mampu menulis sebanyak itu, sedangkan waktu ku terbatas,” begitu pikir para calon penulis yang punya segudang kesibukan lain.

Itu baru dari segi halaman. Coba hitung berapa kata dan huruf yang harus diketik seorang penulis untuk mewujudkan sebuah buku. Saya rela deh menghitungkannya untuk Anda. Ini hasil hitungan saya:

Buku 100 halaman:

20.000-an (dua puluh ribu) kata dan 115.000-an  (seratus lima puluh ribu) huruf.

Buku 150 halaman:

40.000-an (empat puluh ribu) kata dan 140.000-an (seratus tiga puluh ribu) huruf.

Buku 200 halaman:

50.000-an (lima puluh ribu) kata dan 200.000-an (dua ratus ribu) huruf.

(Huruf Times New Roman 12, 1 ½ spasi)

“Oh my god,” pekik teman saya. “Banyak sekali!”

Itu dari sudut pandang beban.

Coba kita balik sudut pandangnya, tidak menganggapnya sebagai beban, apalagi hanya melihat angka-angka tebal halaman dan jumlah kata atau huruf yang terlihat sangat banyak tersebut.

Pada artikel awal-awal, saya sudah menggambarkan bagaimana seharusnya menulis seperti kita menarik nafas atau detak jantung. Berapa banyak nafas yang kita hembuskan setiap menit? Banyak deh! Rata-rata orang dewasa, berdetak jantungnya sebanyak 100 kali dalam semenit. Jadi bebankah buat kita? Tidak bukan. Begitu pula seharusnya menulis, jika dilakukan setahap demi setahap.

Kita tidak perlu memikirkan berapa halaman yang harus ditulis. Tapi ingatlah untuk selalu menulis sedikit demi sedikit. Dimulai dengan satu HURUF, lalu terbentuklah satu KATA, jadilah satu KALIMAT dan tak terasa menjadi satu PARAGRAF. Kumpulan beberapa PARAGRAF menghasilkan sebuah ARTIKEL. Tahukah Anda, sepuluh atau dua puluh ARTIKEL saja bisa menjadi sebuah buku? Ya Anda hanya butuh 10 sampai 20 artikel saja untuk menjadi buku. Sedikit bukan?

Untuk meyakinkan Anda bahwa menulis buku tidak bisa dianggap beban, mari kita hitung berapa banyak waktu yang harus kita habiskan untuk menulis. Saya lagi-lagi merelakan diri untuk menghitungnya spesial buat Anda. Kalau setiap satu huruf membutuhkan waktu seperlima detik, maka untuk sebuah buku 100 halaman saja dibutuhkan waktu sekitar  20.000 detik, atau 333 menit, atau 5,5 jam saja. Ya hanya 5,5 jam saja. Kalau ini terlalu muluk, baiklah kita kalikan dua menjadi 11 jam. Atau kalau masih muluk juga kita kalikan lagi 3 menjadi 16,5 jam.

Secara matematis, seorang penulis sangat mungkin menghasilkan sebuah buku setebal 100 halaman hanya dalam tempo satu hari. Itu sudah dibuktikan oleh beberapa penulis besar, yang mampu menulis novel setebal 300-an halaman hanya dalam waktu 3 hari! Mungkin terlalu muluk, karena penulisan semacam itu termasuk fantastis.

Saya hanya menghimbau Anda untuk menulis sedikit demi sedikit setiap hari. Sisihkan 30 menit saja untuk menulis setiap hari, maka dalam waktu satu bulan atau dua bulan, sebuah buku setebal 100 – 150 halaman akan menjadi milik Anda. Tidak percaya? Mari kita hitung lagi…

Pada paragraf sebelumnya kita sudah sepakat, untuk menulis 100 halaman dibutuhkan waktu 16,5 jam. Jika dalam sehari kita mampu menyisihkan waktu selama 30 menit, maka kita akan menghasilkan 100 halaman dalam waktu 33 hari!

Tidak percaya? Buktikan saja sendiri…

Artikel ini saja saya buat dalam waktu hanya 30 menit (termasuk waktu untuk menghitung angka-angka di atas dengan kalkulator).  Saya menghasilkan 3.764 huruf dan 659 kata.

Ah, menulis memang bukan beban, tapi kenikmatan!

———————————————

SIAPA MAU JADI MANUSIA PRIMITIF?

Setiap Senin, saya mengajar menulis di kampus FISIP UI Depok. Semester ini, saya punya kesempatan menularkan virus menulis kepada 125 mahasiswa dibagi dalam 2 kelas. Hmmm lumayan melelahkan.

Ketika mulai berhadapan dengan mereka, pertanyaan yang saya lontarkan adalah:

– Berapa banyak Anda membaca buku dalam sebulan?

Dengan bangga, sejumlah mahasiswa menyatakan, 5 buku (sebagian besar komik dan novel), ada juga yang 3 buku, bahkan hanya 1 buku. Sebagian lagi hanya menyebut koran dan majalah sebagai bahan bacaan. Nyaris tidak ada seorang pun yang mengaku tidak membaca dalam sebulan.

Pertanyaan berikutnya:

– Berapa banyak Anda menulis dalam sebulan?

Hening……………

Hanya sedikit yang menjawab, kadang-kadang saja melalui diari. Hanya sedikit dari mereka yang bisa mengabadikan moment hidup sehari-hari, ide dan gagasan dalam bentuk tulisan. Sisanya lenyap ditelan badai.

Lalu saya bilang:

“Wah, Anda ini termasuk manusia pra sejarah!”

Mereka terbelalak dan hendak memprotes. Sebelum suara-suara anak muda ini membuncah, saya sudah memberikan jawabannya.

“Hanya manusia pra sejarah yang tidak mau menulis dan mengabadikannya dalam sesuatu yang bisa dibaca oleh generasi yang akan datang. Sehingga mereka tidak pernah tercatat dalam sejarah, dianggap tidak ada! Kalian mau seperti manusia pra sejarah?”

Seperti anak TK, mereka menjawab koooor:

“TIDAAAAAAAAK….”

Maka, marilah menulis dan abadikan dalam bentuk apapun yang bisa dibaca oleh generasi mendatang.

One thought on “Kumpulan Tips Mudah Menulis Buku 1

  1. SubhanAllah,luar biasa. Baru kali ini saya menemukan webs yang membuat hati saya tergugah dan terinspirasi untuk segera belajar cara belajar menulis.Terima kasih atas artikel yang bagus ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s