Kumpulan Tips Mudah Menulis Buku 2

MENDAPATKAN IDE

 

 

Sebelum mendapatkan ide, kita harus memiliki tujuan khusus dalam menulis buku. Apakah mua menulis untuk mendapatkan keuntungan materi (profesional), atau sekadar hobi, atau untuk kebutuhan pemasaran produk Anda, atau meningkatkan nilai jual profesi Anda, dan lain sebagainya. Tujuan itu punya dampak yang sangat kuat dalam memotivasi kita untuk menyelesaikan buku tersebut. Bukan rahasia lagi, kalau kita bukan penulis profesional maka banyak kendala ketika hendak menuntaskan buku itu. Maka tujuan khusus yang spesifik akan mampu mengurai berbagai kendala. Penulis profesional juga punya banyak kendala, sama seperti Anda, tapi semua kendala itu musnah karena tuntutan profesi.

 

Setelah memiliki tujuan yang jelas, langkah selanjutnya adalah memilih tema apa yang akan ditulis. Biasanya, ini beriringan dengan tujuan. Bisa saja tujuan baru muncul setelah punya ide. Atau sebaliknya. Bagi kita penulis pemula, lebih baik punya ide dulu baru kemudian merumuskan tujuan untuk memerkuat ide tersebut. Tapi, bukan berarti keinginan untuk berbagi sebagai tujuan, tidak bisa dilakukan lebih awal. Banyak penulis yang memang ingin berbagi, meski belum punya ide yang jelas.

 

Banyak orang yang bingung dan mengatakan tidak punya ide.

“Mau menulis apa?”

“Saya bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa.”

“Siapa yg mau membaca tulisan saya?”

Itu semua merupakan keluhan para pecundang. Saya yakin orang optimis selalu punya sesuatu untuk diberikan kepada orang lain. Saya juga yakin Anda adalah orang optimis.

 

PERTAMA, lihatlah diri sendiri.

  1. Pengalaman.

Setiap kita pasti memiliki pengalaman. Coba ceritakan pengalaman Anda kepada anak, istri/suami, sodara atau teman. Adakah yang mau mendengarkan pengalaman Anda? Kalau masih ada yang mau berarti pengalaman Anda menarik, dan mungkin bermanfaat. Tentu saja pengalaman yang menarik dan bermanfaat akan menjadi sebuah ide buku yang potensial.

Bahkan pengalaman yang sebelumnya dianggap biasa saja, bisa menjadi bahan tulisan yang luar biasa. Apalagi pengalaman luar biasa! Seorang anak kecil korban perang dunia kedua yang menuliskan pengalamannya selama dalam pengejaran Nazi, menjadi buah bibir setelah anak itu meninggal. Anne Frank demikian nama gadis beli tersebut, menuliskan semua pengalaman sehari-harinya dalam sebuah diari. Dan diari tersebut kemudian menjadi buku laris.

 

  1. Prestasi.

Kalau Anda punya prestasi, ceritakanlah prestasi itu kepada orang lain. Niatkan tulisan tersebut agar menjadi contoh buat orang lain, sehingga bisa berprestasi seperti Anda. Jangan takut terlampaui orang lain. Orang paling berprestasi adalah yang mampu mencetak sebanyak mungkin orang lain yang lebih berprestasi.

 

  1. Keahlian.

Anda punya keahlian? Yes… jaman sekarang kalau tidak punya keahlian, bakal terlindas persaingan. Keahlian adalah modal. Modal menjalani kehidupan. Nah, dalam menulis ternyata keahlian menjadi salah satu ide yang paling potensial. Ceritakanlah seluruh keahlian Anda dalam sebuah buku. Dan yakinlah orang lain yang mengambil manfaat dari keahlian tersebut. Lihatlah di toko buku, banyak buku yang berisi tentang keahlian penulisnya. Ada buku tentang cara menjual, cara membangun rumah, dekorasi, komputer dan lain sebagainya. Semua melulu tentang keahlian. Apa keahlian Anda? Segera bagi kepada orang lain melalui tulisan! Saya sedang melakukannya…

 

  1. Ide/pikiran/gagasan.

Jika Anda tidak punya pengalaman (sebenarnya mustahil), atau tidak punya keahlian (kebangetan kalau ini terjadi), jangan khawatir. Masih ada hal lain yang bisa menjadi ide tulisan menarik yaitu ide atau gagasan. Manfaatkan ilmu yang Anda miliki untuk menggagas sebuah hal. Atau sekedar mengomentari/membahas hal yang Anda sukai. Banyak buku yang berisi hanya ide atau gagasan saja (teori) dari penulisnya. Anda punya peluang untuk itu.

 

Empat hal itu berasal dari diri sendiri. Sesungguhnya masih banyak yang lainnya jika Anda bisa mengeksploitasi diri sendiri.

 

KEDUA, lihat orang sekitar.

Apa yang menarik pada orang sekitar Anda? Sama seperti dari diri sendiri, biasanya yang menarik dari orang lain adalah pengalaman, keahlian atau prestasi mereka.

 

Beberapa peserta workshop menulis yang masih bingung dengan dirinya sendiri, mengajukan ide menulis tentang orang lain. Ada yang ingin menulis biografi tokoh idolanya, ada juga yang mau menceritakan sosok kenalannya yang sangat inspiratif. Bahkan ada yang mengisahkan perjalanan ibunya sendiri, dilengkapi dengan cerita perjuangan ibu-ibu yang lain. Tak usah berkecil hati, ide semacam itu tetap menarik. Lihatlah serial Chicken Soup! Isinya adalah cerita inspiratif tentang orang lain.

 

KETIGA, sudahlah dari 2 sumber itu saja sudah cukup banyak ide yang bisa tergali. Jika Anda sungguh-sungguh mau menulis dan sudah punya tujuan untuk itu, saya yakin dari sumber diri sendiri dan orang sekitar saja, pasti akan muncul belasan ide.

 

Jadi, tidak ada alasan tidak punya ide untuk menulis.

 

——————————————-

UBAH IDE BIASA JADI LUAR BIASA

 

Beberapa  tahun lalu saya bertemu dengan seorang penulis senior yang juga memiliki penerbitan buku. Dia bercerita tentang industri buku, yang membuat semangat saya turun. Maklum, saat itu saya baru saja terjun ke industri penulisan dan masih gamang dengan pilihan hidup yaitu menjadikan menulis sebagai profesi utama.

”Di sini susah, minat baca masih sangat minim. Padahal buku yang terbit setiap minggu banyak sekali,” ujarnya serius meski peta wajahnya cenderung lucu. ”Saya sudah menulis puluhan buku dan tampaknya pasar sudah jenuh,” pungkasnya.

 

Kontan saja pendapatnya tersebut membuat saya mengkerut cukup parah. Baru mencanangkan target menulis 1.000 judul buku, eh malah mendapatkan masukan yang tidak menyenangkan. Untunglah, saya sudah membekali diri dengan motivasi tinggi dan berbagai bahan bacaan pendukung. Saya juga belajar dari Tirta Setiawan, ketua Asosiasi Broker Real Estat Indonesia, tentang sudut pandang yang berbeda terhadap pasar. Sudut pandang tersebut cocok untuk melihat pasar buku di Indonesia.

 

Benar, minat baca orang Indonesia masih rendah. Apalagi kalau dibandingkan dengan di Amerika Serikat, bedanya seperti langit dan bumi. Namun, buat sang optimis, sudut pandangnya adalah minat baca orang Indonesia akan terus meningkat sehingga kondisi ini justru menjadi sebuah potensi yang luar biasa. Sedangkan buat sang pesimis, sudut pandangnya adalah kejenuhan pasar dan buruknya minat konsumen.

 

Saya sudah membuktikan bahwa minat baca bisa dikerek naik dengan beberapa faktor, salah satunya adalah buku yang sesuai  dengan kebutuhan dan keinginan konsumen. Di sinilah letaknya kita butuh ide-ide brilian dalam membuat buku. Tidak ada tempat buat buku dengan ide-ide biasa. Ide brilian atau luar biasa bukan berarti ide yang fenomenal. Oleh karena tema biasa pun bisa menjadi sebuah ide yang luar biasa dengan sejumlah perlakuan.

Cara mengubah ide biasa menjadi luar biasa:

  1. Berpikir Out of The Box. Jualan buku di atas kereta api mungkin sudah biasa. Namun, buku tentang cerita-cerita di kereta api dan bukunya hanya dijual di atas kereta api, bisa jadi tidak biasa. Buku tersebut tidak bisa didapatkan di toko buku. Hasilnya, bisa menjadi luar biasa. Beberapa buku melengkapi dirinya dengan CD, VCD, lembar latihan, voucher dan lain sebagainya. Teman saya sesama mentor di Profec Authors Club – Johannes Arifin Wijaya membuat sebuah buku yang sama sekali out of the box. Temanya tentang motivasi, tetapi dikemas dalam bentuk botol mirip minuman multivitamin. Tak ada yang pernah membuat hal semacam itu sebelumnya.
  1. Berpikir gila. Sesuatu yang di luar kebiasaan orang kebanyakan, biasanya disebut pikiran yang aneh atau bahkan disebut gila. Tidak mengapa karena justru ide-ide gilalah yang diterima oleh konsumen. Misalnya, apa yang dilakukan Tung Desem. Siapa yang bisa menirunya  mempromosikan  buku  dengan cara menyebarkan uang kertas dari pesawat terbang?
  1. Gunakan konsep 3 BE. Be The First, Be The Best, dan Be Different. Buatlah sebuah buku yang temanya baru Anda yang buat sendiri. Kalau tidak bisa, berusahalah menjadi yang terbaik di antara tema buku yang serupa. Hal ini memang sulit.  Cara terakhir yang mungkin tidak sesulit be pertama dan kedua adalah membuat sesuatu yang berbeda.

 

———————————————–

BIKIN KERANGKA TULISAN (OUTLINE)
Setelah melewati berbagai tahap menyangkut ide, tibalah saatnya kita membuat sebuah kerangka tulisan atau lebih sering disebut sebagai outline. Kerangka tulisan merupakan sebuah uraian berisi pokok-pokok pikiran yang akan ditulis dalam buku. Setiap penulis hampir pasti harus membuat kerangka tulisan, agar penulisannya lebih mudah, lebih rapi, dan sistematis. Jarang sekali ada penulis yang mampu membuat buku tanpa outline. Bahkan penulis fiksi sekali pun.

Ada pun manfaat kerangka tulisan sebagai berikut.
. Memudahkan proses penulisan.
. Membuat penulis tidak bingung memulai proses penulisannya.
. Sebagai bahan untuk presentasi ke penerbit. Biasanya setiap penerbit akan menyeleksi tema calon buku melalui kerangka tulisan.
. Menjadikan tulisan lebih sistematis.
. Membuat penulis fokus pada inti tulisan.
. Menjamin kelengkapan materi yang dikupas dalam buku tersebut.

 

———————————————–

MULAI SAJA, SEKARANG JUGA!

 

Yap! Mulai saja. Kapan Anda akan memulai kalau terus hanya membaca dan mengkhayal atau bertanya-tanya terus?

 

Mulai dari yang Mudah Dulu 

 

Teori sih gampang! Mulailah menulis sekarang juga. Begitu bukan kata teori? Termasuk teori dalam buku ini. Namun, pelaksanaannya susah. Saya harus mulai dari mana? Sudah beberapa hari mau menulis tetapi tetap tidak bisa karena tidak tahu harus memulai dari mana. Outline sudah dilihat, dipelajari dan diutak-atik. Namun, tetap saja, belum bisa memulainya!

 

Uraian di atas bukan teori, tetapi pengalaman beberapa penulis pemula yang sering mampir di telinga dan mata saya. Mereka mengirim sms atau e-mail yang berisi keluhan semacam itu. Seharusnya—lagi lagi secara
teori — kalau kita sudah punya outline maka kebingungan mulai dari mana itu sudah tidak ada. Logika sederhananya adalah ”Sudah ada urutannya mulai dari pembukaan sampai penutup. Kerjakan saja mulai dari awal sampai akhir.”

 

Pada kenyataannya tidak bisa demikian, dan memang seharusnya tidak demikian. Salah besar, sekali lagi, salah besar, jika kita menulis buku (khususnya non-fiksi) harus berurutan dari bagian awal sampai bagian akhir. Keliru! Lebih bodoh lagi kalau semuanya ditulis dalam satu file sendiri. Cara seperti itu sama saja dengan bunuh diri. Untuk
membuka filenya saja akan susah, bagaimana melanjutkan proses penulisan.

 

Langkah pertama menulis buku, tulislah bagian-bagian yang paling mudah dulu. Ingat waktu ulangan di SD dulu, kerjakan yang mudah dulu dan yang susah belakangan. Teknik itu menjadi rumus ampuh dalam menulis juga. Intinya, kerjakan bagian yang paling dikuasai atau disukai. Lihat outline, tandai bagian yang sudah dikuasai 110%, tandai lagi bagian yang paling Anda sukai. Kerjakanlah bagian-bagian itu segera.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s